Mar 29
Agung WicaksonoWriting
Dahulu gelar akademik lulusan perguruan tinggi dalam negeri umumnya hanya dua macam, yakni Drs. (doktorandus) dan Dra. (doktoranda). Doktorandus untuk laki-laki, sedangkan doktoranda untuk perempuan. Kedua gelar yang berasal dari bahasa Belanda ini diberikan tanpa memandang disiplin keilmuan yang pernah diikuti.
Namun, sejak keluarnya Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 036/U/1993 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Perguruan Tinggi, pemberian dan cara penulisan gelar seperti di atas tidak berlaku lagi. Pemberian gelar kini mengikuti keputusan tersebut dan penulisannya mengikuti ketentuan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
Contoh beberapa penulisan gelar:
1. Gelar Sarjana (S1)
S.P. (sarjana pertanian)
S.Pd. (sarjana pendidikan)
S.Pd.I. (sarjana pendidikan Islam)
S.Psi. (sarjana psikologi)
S.Pt. (sarjana peternakan)
S.E. (sarjana ekonomi)
S.Ag. (sarjana agama)
S.Fil. (sarjana filsafat)
S.Fil.I. (sarjana filsafat Islam)
S.H. (sarjana hukum)
S.H.I. (sarjana hukum Islam)
S.Hum. (sarjana humaniora)
S.I.P. (sarjana ilmu politik)
S.Kar. (sarjana karawitan)
S.Ked. (sarjana kedokteran
S.Kes. (sarjana kesehatan)
S.Kom. (sarjana komputer)
S.K.M. (sarjana kesehatan masyarakat)
S.S. (sarjana sastra)
S.Si. (sarjana sains)
S.Sn. (sarjana seni)
S.Sos. (sarjana sosial)
S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
S.T. (sarjana teknik)
S.Th. (sarjana theologi)
S.Th.I. (sarjana theologi Islam)
2. Gelar Magister (S2)
M.Ag. (magister agama)
M.E. (magister ekonomi)
M.E.I. (magister ekonomi Islam)
M.Fil. (magister filsafat)
M.Fil.I. (magister filsafat Islam)
M.H. (magister hukum)
M.Hum. (magister humaniora)
M.H.I. (magister hukum Islam)
M.Kes. (magister kesehatan)
M.Kom. (magister komputer)
M.M. (magister manajemen)
M.P. (magister pertanian)
M.Pd. (magister pendidikan)
M.Pd.I. (magister pendidikan Islam)
M.Psi. (magister psikologi)
M.Si. (magister sains)
M.Sn. (magister seni)
M.T. (magister teknik)
3. Gelar Doktor (S3)
Dr (doktor)
4. Gelar Diploma
Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.
Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.
Cara Penulisan:
Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma (,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:
1. Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antar huruf pada singkatan gelar yang dimaksud.
2. Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
3. Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelar-gelar tersebut disisipi tanda koma.
Contoh: Muhamad Ilyasa, S.H., S.E., M.M. Di antara nama dan gelar, terdapat tanda koma. Di antara ketiga gelar, juga terdapat tanda koma. Di antara huruf-huruf singkatan gelar, diberi tanda titik.
Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka penulisan gelar tersebut salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan bisa bermakna nama keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa koma di antara nama dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad Ilyasa Saleh Hamid, dan sebagainya.
Sumber: http://www.anneahira.com/cara-penulisan-gelar.htm
Mar 28
Agung WicaksonoWriting
Seringkali saya melihat banyak kesalahan penggunaan tanda petik dalam karya tulis, skripsi, maupun publikasi online. Hal ini mungkin karena lupa atau memang belum tahu, atau karena kurangnya peran seorang editor. Ini mungkin dianggap sepele, namun dalam penulisan karya ilmiah sangatlah penting. Untuk itu saya ingin sharing tentang penggunaan tanda petik yang benar untuk menjadi rujukan bagi rekan-rekan yang sering menulis. Semoga bermanfaat.
1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau
bahan tertulis lain.
Misalnya:
“Saya belum siap,” kata Mira, “tunggu sebentar!”
Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, “Bahasa negara ialah bahasa Indonesia.”
2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Bacalah “Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Masa dari Suatu Tempat.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul “Rapor dan Nilai Prestasi di
SMA” dimuat dalam majalah Tempo.
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama “cutbrai”.
4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengahkiri petikan langsung.
Misalnya:
Kata Tono, “Saya juga minta satu.”
5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan “si Hitam”.
Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak tahu sebabnya.
Catatan:
Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu
ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
(Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan || Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2000)
Di internet ada banyak sekali web yang mengulas penggunaan tanda baca yang baik dan benar, misalnya:
- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (pada id.wikisource.org)
- Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi 2009 (PDF)
- Pada wikipedia.org
Feb 20
Agung WicaksonoTranslation / Terjemahan
Ada berbagai jenis penerjemahan, dan tergantung pada jenis penerjemahan yang Anda ambil, Anda akan menghadapi berbagai macam kesulitan penerjemahan yang berbeda-beda. Dengan pendekatan yang cermat, pelatihan yang tepat dan kreativitas, kesulitan ini dapat diatasi dan bisa menghasilkan kualitas terjemahan yang dapat diandalkan.
- Tidak Memahami Tujuan Terjemahan
Ketika klien membutuhkan sesuatu untuk diterjemahkan, akan ada tujuan akhir dari teks tersebut, dan perlu dipahami bahwa tujuan akhir akan membantu terjemahan menjadi sukses. Sebagai contoh, teks yang diterjemahkan untuk tujuan hukum harus tunduk pada teks aslinya dari pada digunakan untuk tujuan pemasaran. Menerjemahkan teks untuk tujuan pemasaran membutuhkan aliran ide dan perasaan tertentu. Menerjemahkan sebuah puisi atau lagu memiliki kesulitan tambahan yaitu tidak hanya mencerminkan makna tetapi suara dan energi dari teks asli.
- Masalah Ambiguitas dalam Teks
Kosakata yang sangat spesifik dan struktur tata bahasa tertentu dapat menyebabkan kesulitan penjabaran arti yang tidak jelas. Seorang penerjemah berpengalaman dengan pengetahuan yang baik dari kedua bahasa dapat menghindari kesulitan tersebut, memastikan bahwa dokumen yang diterjemahkan mencerminkan makna asli dan konteks.
- Melupakan Kepekaan Budaya ketika Menerjemahkan
Bahasa secara intrinsik berhubungan dengan budaya. Penting diketahui bahwa penerjemahan sangat memperhatikan hal ini, terutama ketika menerjemahkan teks-teks tradisional, teks tentang praktik budaya atau bahkan humor. Bahkan seorang penerjemah profesional yang berpengalaman bisa bergelut dengan kesulitan penerjemahan. Mereka sadar akan perbedaan dalam struktur, tata bahasa dan konteks antara dua bahasa.
Sering ada sebuah hasil yang negatif untuk 3 kesulitan di atas – memulai menerjemahkan kata demi kata. Pernah mencoba menggunakan kamus untuk menerjemahkan suatu teks, mencari arti kata demi kata untuk menghasilkan kalimat yang identik dengan struktur aslinya? Tidak hanya akan memakan waktu untuk menerjemahkan, hasilnya juga akan tidak akurat. Pikirkan dasar mesin terjemahan internet dan sejenisnya, kalimat membingungkan yang kadang-kadang dihasilkan-mirip dengan apa yang terjadi ketika Anda mencoba untuk menerjemahkan kata demi kata. Banyak bahasa yang mengatur kalimatnya dengan cara yang berbeda dan rumit.
Salah satu tips yang pernah saya lakukan ketika mulai terjemahan pertama saya adalah sangat sederhana: tanyakan saja ketika Anda tidak yakin tentang proyek penerjemahan kepada klien, bahkan jika dia klien pertama Anda! Bila Anda tidak yakin tentang tujuan akhir, gaya dan faktor penting lainnya, ajukan pertanyaan kepadanya. Setiap klien menyukai penerjemah yang tertarik pada proyeknya, yaitu seorang penerjemah yang berusaha mencari hasil akhir terbaik. Klien Anda akan senang untuk menjawab, daripada mendapatkan hasil terjemahan yang rendah di akhir.
Sumber: http://www.slavistix.nl/en/